Homaro Cantu

Anda penggemar makanan? OK.. OK.. pertanyaan yang bodoh. Siapa yang tidak?

Kalau begitu, Anda tentu tahu bahwa dunia makanan merupakan dunia yang penuh kreativitas. Kunjungilah 10 restoran yang berbeda, terutama yang berkelas atas, dan Anda mungkin akan menjumpai ratusan variasi masakan. Sejak dulu, para chef terkenal selalu diasosiasikan dengan karya-karya mereka yang bukan saja memuaskan lidah, tapi juga menggelitik rasa seni kita.

Walau demikian, kita semua juga tahu ada batasan untuk kreativitas dan inovasi di dunia makanan. Bagaimanapun, terdapat sejumlah standar-standar konvensional untuk mengolah makanan yang tidak bisa dilanggar. Misalnya, tidak ada chef yang pernah berpikir untuk memasak dengan sinar laser, walau sinar tersebut bisa menghasilkan panas yang cukup. Selain itu, makanan harus selalu dalam bentuk 3 dimensi, dan tidak dalam bentuk 2 dimensi. Makanan juga harus dimasak dengan bantuan api yang membutuhkan oksigen, sehingga tidak mungkin dimasak dalam ruang hampa. Dan sejumlah unsur alam seperti nitrogen atau helium bukanlah bagian dari peralatan atau bumbu dapur. Orang memasak dengan peralatan masak standar, dan bukan dengan printer misalnya. Dan tentu saja, makanan harus disajikan di meja, bukan melayang-layang di atas meja. Kalau pun ada orang yang memiliki ide-ide gila seperti itu, mungkin hanyalah para kartunis yang ingin menghibur pembaca atau penontonnya.

Tapi, tunggu dulu… Apakah benar demikian?

Tuhan mungkin tidak setuju. Karena itu, Dia menciptakan Homaro Cantu.

Homaro Cantu, 29 tahun, bukanlah chef sembarang chef. Dari kecil, dia sudah suka membongkar perkakas dan mainan di rumahnya dan belajar sains secara otodidak sebelum akhirnya bertemu dengan dunia masakan di sekolah menengahnya. Sejak saat itu, dia bercita-cita untuk menjadi seorang chef ternama. Dengan kegigihannya, dia belajar dengan para chef ternama di US, meski kadang-kadang tanpa meminta bayaran. Kreativitasnya yang sudah membara sejak kecil akhirnya mendapatkan tempat penyaluran di dunia dunia dapur, apalagi setelah dia diberi kepercayaan untuk mengelola restoran Moto di Chicago. Setelah itu, dapur di Moto diubah menjadi laboratorium eksperimen ala Star Trek.

Pengunjung restoran tersebut akan disuguhi menu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ada sup yang dimasak dalam ruang hampa atau telur yang dibekukan dengan nitrogen. Ada makanan yang dihias dengan lukisan indah yang bisa dimakan (dan rasanya lezat). Lukisan tersebut dicetak dengan printer Canon i560 inkjet. Menu makanannya sendiri? Jangan takut. Bila Anda kelamaan menunggu pesanan Anda muncul dan tidak bisa menahan lapar lagi, kunyah saja menu tersebut. Rasanya dijamin tidak mengecewakan (tidak ada maksud bercanda di sini). Cantu juga sedang bereksperimen dengan sinar laser untuk memasak bagian tengah ikan dan membiarkan lapisan luarnya tetap mentah untuk disajikan sebagai sushi. Dan bagaimana dengan makanan yang bisa melayang? Sejauh ini, dia telah berhasil membuat butiran gula dan garam melayang dengan bantuan pistol partikel ion. Dan Cantu sedang mencoba penggunaan nitrogen dan helium untuk membuat makanan yang bisa melayang.

Jangan kira tidak ada orang yang bersedia mencicipi makanan-makanan tersebut. Cantu berani menjami semua makanan yang disajikannya enak untuk dimakan. Berkat Cantu, Moto menjadi salah satu restoran yang paling banyak dibicarakan di Chicago. Makanan-makanan tersebut juga tidak murah. Rata-rata seorang pengunjung akan menghabiskan sekitar US$ 200 untuk sekali makan.

Selain mengolah masakan, Cantu juga rajin menciptakan peralatan-peralatan dapur yang inovatif dan telah memegang sekitar 30 paten. Contoh penemuannya termasuk sendok yang bisa mengeluarkan makanan dengan memencet tombol (cocok untuk bayi dan anak kecil), atau kotak untuk memasak yang bisa membuat makanannya tetap memasak dirinya sendiri walau sudah dikeluarkan dari kotak.

Lewat karya-karya inovatifnya, Cantu berhasil mengaburkan batas antara seni dan sains dalam dunia makanan, dan meleburkan dunia Thomas Edison dan Salvador Dali.

Masihkah Anda berpikir bahwa standar-standar konvensional yang selalu kita pegang selama ini tidak bisa diubah?

source : http://www.itpin.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s