Kendi Didepan Rumah

Di kota saya, ada sebuah rumah, yang kepada rumah itulah saya selalu dipaksa menoleh jika kebetulan melintas di depannya. Rumah itu sederhana saja. Jadi kalau ia menarik perhatian saya, pasti bukan karena bentuknya, melainkan karena dua kendi yang selalu dipajang di depan, berdekatan dengan jalan raya. Tempat kendi itu berupa tiang dengan rumah-rumahan kecil di pucuknya, dengan atap bertuliskan ”air matang”.

Tak sulit menebaknya, kendi itu memang berisi air minum, yang bebas diakses oleh siapa saja. Bahkan oleh para pejalan kaki bernama entah, yang bahkan air putih pun kesulitan membelinya. Adakah orang sesusah itu ada? Ada. Pameran kemiskinan adalah sesuatu yang amat nyata di sekitar kita. Jika kita lupa mengingatnya, barangkali karena kemiskinan itu kita tatap dari jendela mobil, dari tembok-tembok rumah kita yang tinggi, dan dari hotel-hotel berbintang tempat kemiskinan sering diseminarkan. Maka, kemiskinan itu ada, cuma tidak terasa. Kita mengerti tidak enaknya, tapi telah lupa rasanya. Maka kepada kemiskinan di sekitar, kita cenderung lupa, bahkan sekadar menaruh kendi di depan rumah sebagai derma.

Di masa kecil saya, pemandangan itu bukanlah derma yang istimewa. Ada sebuah desa yang malah memakainya sebagai semacam tradisi saja. Tapi kini, desa yang mengajarkan tradisi itupun telah kehilangan penerusnya. Desa itu telah berganti generasi yang memilih menjadi orang kota yang pasti mulai sibuk dengan utusan karier dan nasibnya sendiri.

Berpikir tentang nasib sendiri pun gelap, apalah artinya berpikir tentang kehausan sesama. Di kota tempat saya tinggal itu, dari sekitar hampir dua juta penduduk, sepanjang saya tahu, juga cuma ada dua rumah yang melakuan hal yang sama.

Dua rumah itulah, jika kebetulan lewat, saya reflek menengoknya. Mengucapkan rasa hormat kepada yang empunya sambil malu pada kealpaan diri sendiri. Di tengah hiruk pikuk kota, dua rumah itu, selalu berhasil mengingatkan diri mereka sendiri atas penderitaan sesama. Derma itu bisa jadi kecil saja, cuma air putih di dalam sebuah kendi yang isinya tak seberapa.

Tapi betapa yang kecil pun saya tak sanggup melakukannya. Di dalam diri saya pasti segera muncul pembelaan, ah jalan derma itu, toh bukan cuma dengan cara menaruh kendi-kendi itu saja. Masih banyak cara, yang menurut kita jauh lebih besar, lebih berguna dan menantang pula. Lalu bayangan saya pun telah terpaku kepada banyak cara yang lebih berguna dan lebih menantang itu.

Sementara ingatan saya telah berlari ke cara derma yang banyak itu, saya lupa meneliti, adakah derma saya sudah sebanyak yang saya bayangkan itu. Jika yang kecil pun terlupa, adakah lagi yang bisa diharap dari yang besar dan banyak. Jangan-jangan yang banyak itu cuma imajinasi, cuma sikap kikir dan tak peduli, yang dikemas dalam cita-cita mulia, yang kemuliaan itu cuma terus akan menjadi cita-cita bahkan hingga saya mati.

Sementara saya mati dengan cita-cita mulia, pemilik kendi-kendi itu, memilih terus menjerang air, menaruhnya di kendi-kendinya, mengisinya jika kosong, dan menaruhnya kembali di jalan untuk ia isi kembali jika kosong. Ia menjerang air, mengisi, mencucinya, dan menaruhnya kembali di tempatnya. Terus, terus dan terus. Barangkali sampai ia sendiri mati.

Sementara ia terus menerus mengisi kendi-kendinya, melayani kehausaan saudaranya yang bahkan air putih pun tak kuat membelinya, saya tetap masih di sini, membayangkan sebuah kemuliaan yang tak pernah benar-benar saya kerjakan.

http: //cakbambang.multiply.com

Advertisements

4 thoughts on “Kendi Didepan Rumah

  1. iis_moslem

    bagussss….jd pengen banyak2 sodaqoh ni!
    hem, sekedar saran ni
    untuk melakukan sebuah kebaikan atau apapunlah (tp yg baik2 ya…) tu jangan cuma dipikirin, tapi dikerjain….selamat mencoba.^_^

    betul, lebih baik dipraktekin langsung 🙂

  2. Benni

    Halo, saya ingin ijin mengcopas dan mengedit artikel ini.. apakah saya boleh melakukannya ? tujuan saya melakukannya untuk dipublikasikan di mading tempat ibadah.. jika y, mohon untuk mengirimkan pesan ke email saya.. / membalas pesan saya ini di comment sini.. (saya akan berkunjung kembali) Terima Kasih.. 🙂

  3. Benni

    Baik, urlnya akan saya tulis : cakbambang.multiply.com & alhakim.wordpress.com..

    Sekali lagi terima kasih y.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s